konon hidup tidak ada 'Siaran Ulang', coz 'Siaran tunda we lah'

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Friday, 11 September 2009

Mengawali Kisah Hidup di Malam Seribu Kebaikan


Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang "Islam ala 'Cafetaria'", tidak diragukan lagi bahwa memang Islam sangat memberi kebebasan terhadap umatnya dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam hal ibadah. Sebagai manusia tentunya kita sudah familiar dengan istilah qadha & qadhar; sesuatu yang sudah ditetapkan dari sebelum kita lahir dan ketetapan/kenyataan yang terjada sebenarnya di dunia.

Jika dihubungkan keduanya, maka akan ada korelasi antara tulisan saya sebelumnya "Islam ala 'Cafetaria'" dengan istilah qadha & qadhar. Dalam Islam ala 'Cafetaria', manusia diberi kebebasan untuk menentukan tujuan hidupnya (jalan yang ia akan tempuh) tentunya dengan rambu-rambu tertentu, sedangkan dalam ketetapan qadha dan qadhar juga demikian yaitu untuk ketetapan yang akan terjadi (qadhar) bisa saja berbeda dengan sebelumnya (qadha) tergantung dari manusia yang menerimanya. Perbedaan itu dimungkinkan, karena manusia memiliki akal dan nafsu.

Pada binatang, misalkan saja seekor singa, qodho yang dimilikinya adalah memakan daging, maka ketika dia hidup tidak mungkin dia menjadi vegetarian. Artinya antara qadha dan qadhar-nya sama, tidak berubah. Sedangkan untuk manusia, qadha-nya adalah misalnya harus memakan makanan halal. Akan tetapi pada kenytaannya banyak diantara manusia yang memakan makanan haram. Jadi antara qadha & qadhar bisa saja berubah pada manusia, sedangkan untuk makhluk selain manusia adalah sama (tidak berubah).

Karena qadhar (ketetapan yang belum terjadi) dapat berubah pada manusia, maka ia bisa saja menjadi lebih baik atau buruk. Dan qadhar itu berkaitan erat dengan Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan), karena setiap ketetapan manusia yang berkaitan dengan qadha & qadhar-nya akan direvisi/dievaluasi pada malam itu (kalau gak salah ada ayat atau hadits-nya tapi saya lupa). Saat itulah kesempatan kita untuk memperbaiki ketetapan 'qadhar' kita, yang mudah-mudahan harapannya adalah menjadi lebih baik lagi, bukan sebaliknya. Sesuatu yang dapat merubah takdir kita adalah dengan kekuatan doa, seperti firman-Nya:

"Dan dialah yang menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan," (As Syura : 25)

Dalam ayat lain juga disebutkan:
"Berdoalah kepada-Ku(Allah), niscaya akan Aku kabulkan"

Doa yang sering diucapkan tatkala pada malam 10 terakhir Ramadhan, untuk mendapatkan kebaikan dalam 'qadhar' kita selanjutnya;


Doa malam Lailatul Qadr


Sungguh beruntung orang-orang yang berkesempatan waktu untuk melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta beribadah (berdzikir) kepada Allah, karena ribuan malaikat yang dipimpin oleh Ruhul Qudus (malaikat Jibril) akan mendoakan manusia yang beribadah pada malam lailatul qadr.

Mumpung baru hari ke-21, masih ada kesempatan untuk mengharap malam seribu kebaikan dan meningkatkan ibadah kita di akhir Ramadhan.

Q.S. Al-Qadr:1-5

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar,
2. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu?
3. Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan.
4. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut);
5. Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!

Wallahu a'lam, semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan kepada kita,.


-Ramadhan 21, 1430H-

Saturday, 22 August 2009

Investasi Berharga Seorang Ayah (oleh-oleh kuliah subuh Ramadhan hari pertama)

Dua orang kakak-beradik (kakaknya berumur 10 tahun, sedangkan adiknya 7 tahun) saat hari pertama Ramadhan berjalan ke sebuah pemakaman dengan digenggam erat oleh tangan ibunya. Seharusnya sesaat sebelum fajar datang, mereka bersama-sama dengan sang ayah melakukan sahur bersama. Namun Allah berkehendak lain, tepat sebelum subuh sang ayah sudah keburu dipanggil oleh Dzat pemilik hidup (Allah SWT).


Mereka mengiringi jasad sang ayah dengan pikiran entah mengerti atau tidak dengan apa yang terjadi. Mereka hanya menjawab dengan senyum yang sangat polos (khas anak-anak) ketika sanak saudara dan tetangga memberi semangat. Mereka hanya mengetahui bahwa sang ayah telah dijemput oleh Allah, karena Allah sayang ayah mereka, itu kata sang ibu ketika mereka bertanya.

Setelah proses pemakaman selesai, tanpa disuruh sang ibu, kedua kakak beradik ini langsung berdoa di atas pusara ayah mereka. Doa yang sangat sederhana, doa umum yang sering dibaca oleh anak-anak; An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, serta doa untuk dua orang tua; "Rabbiqhfirlii waliwalidaiya warhamhumaa kamaa rabbayanii saghiraa", sang kakak memimpin doa. Ketika sang ibu menyaksikan apa yang dilakukan oleh kedua anaknya, beliau menjadi sangat terharu dan berkaca-kaca seraya bersyukur kepada Allah karena ia dan sang ayah telah telah merasa memberikan jalan serta pendidikan yang benar terhadap kedua anaknya, sesuai kapasitas mereka sebagai seorang anak kecil.

Sungguh investasi yang sangat berharga, meski sang ayah hanya bertemu 7 tahun, serta 10 tahun dengan anak tertuanya. Namun, ia akan tersenyum disana dengan rasa bangga. Sungguh beruntung menjadi orangtua dua anak kecil itu.

-suatu pagi, awal ramadhan 1430H-

Wednesday, 8 April 2009

RISALAH TA’ALIM

Bissmillahirohmanirrohim

“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah:105)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (al-An’am:153)

Sepuluh Rukun Baiat.,

Terdapat sepuluh rukun baiat yang dirisalahkan oleh Imam Hasan Al-Banna, dimana sepuluh rukun itu bukan saja ditujukan untuk jamaah Ikhwanul Muslimin, akan tetapi kalau kita telaah lebih jauh dapat diterapkan oleh umat muslim secara luas karena sifatnya yang umum. Sepuluh rukun itu adalah: fahm (pemahaman), ikhlas, amal (aktifitas), jihad, tadhiyah (pengorbanan), taat (kepatuhan), tsabat (keteguhan), tajarrud (kemurnian), ukhuwah, dan tsiqah (kepercayaan).

Dalam tulisan ini, saya hanya akan menyajikan rukun yang pertama saja dahulu. Tulisan ini saya ambil dari buku “Risalah Pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimin” jilid 2 terbitan Era Intermedia yang berjudul asli “Majmu’ah Risa’ilil Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna”.

Penempatan ‘Fahm’ sebagai rukun pertama juga ternyata ada maksudnya, seperti kita beriman. Sebelum beriman, maka kita sebenarnya berilmu terlebih dahulu. Segala tindakan yang kita lakukan hendaknya disertai dengan ilmu, jika tidak, maka bisa saja yang kita lakukan itu sia-sia, seperti berbuat tanpa tujuan. Allah AWT pun menurunkan Al-Quran diawali dengan penyeruan terhadap berilmu”Iqra”.

‘Fahm’

Fahm (pemahaman) yang dimaksud adalah engkau yakin bahwa fikrah kita adalah ‘fikrah islamiyah yang bersih”. Hendaknya engkau memahami Islam, sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul al-‘isyrin (duapuluh prinsip) yang sangat ringkas berikut ini.

Pertama, Islam adalah sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah akidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

Kedua, Al-Quran yang mulia dan Sunah rasul yang suci adalah tempat kembali setiap Muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri memaknai suatu ayat tanpa memiliki nash pendukung yang lain, hanya mengandalkan pendapat sendiri tanpa menyandarkannya pada pengetahuan bahasa Arab) dan ta’assuf (serampangan). Selanjutnya, ia memahami Sunnah yang suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.

Ketiga, Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia dapat pula dianggap dalil asalkan tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teks-teksnya.

Keempat, jimat, mantra, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya, adalah kemungkaran, yang harus diperangi, kecuali mantra dari ayat Al-Quran atau ada riwayat dari Rasulullah SAW.

Kelima, pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang mebawa kemaslahatan umum, dapat diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Prinsipnya, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat istiadat), harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.

Keenam, setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya, kecuali al-ma’shum (Rasulullah) SAW. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan Kitab dan Sunnah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya maka kitabullah dan Sunnah rasul-Nya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang karena sesuatu yang diperselisihkan dengannya – kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja terhadap niat mereka, dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.

Ketujuh, setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah dalil-dalil hukum furu’(cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknyajika – bersamaan dengan sikap mengikutinya ini – ia berusaha semampunya untuk mempelajari dalil-dalilnya. Hendaknya, ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Hendaknya, ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan jika ia termasuk orang yang pandai, sehingga mencapai derajat penelaah.

Kedelapan, khilaf dalam masalah fiqih furu’(cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, serta tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyahdalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu dengan tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.

Kesembilan, setiap masalah yang amal tidak dibangun diatasnya - sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu – adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi, atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al-Quran yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan tentang perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat (padahal masing-masing dari mereka meiliki keutamaannya sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya). Dengan takwil (menafsirkan baik perilaku para sahabat) kita terlepasz dari persoalan.

Kesepuluh, makrifat kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan akidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits sahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhububgan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya tanpa takwil dan ta’thil, serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana rasulullah SAW dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.

“...dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami......" (Ali-‘Imran:7)

Kesebelas, setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya, tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.

Kedua belas, perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah Iidhafiyah (bid’ah penambahan), bid’ah tarkiyah (bid’ah penolakan), dan iltizam (membuat peraturan-peraturan bagi ibadah yang bersifat mutlak) terhadap ibadah muthlaqah (yang tidajk ditetapkan, baik cara maupun waktunya) adalahperbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang memiliki pendapat sendiri. Namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti.

Ketiga belas, cinta kepada orang-orang yang shaleh, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena pengaruh baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah SWT. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya, yaitu “…orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. Karamah pada mereka itu benar-benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar’i-nya. Semua itu dengan suatu keyakinan bahwa mereka - semoga Allah meridhai mereka – tidak memiliki mudarat dan manfaat bagi dirinya, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, apalagi bagi orang lain.

Keempat belas, ziarah kubur – kubur siapapun – adalah Sunnah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Namun, meminta pertolongan pada penghuni kubur siapapun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (baik dari jarak dekat maupun kejauhan), bernazar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan berkah), bersumpah dengan selain Allah, dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar yang wajib diperangi. Selain itu, juga janganlah mencari takwil (pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.

Kelima belas, doa. Apabila diiringi tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah salah satu perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah akidah.

Keenam belas, istilah (keliru) yang sudah mentradisi (seperti riba Bank) tidak mengubah hakikat hukum syar’i-nya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu, dan kita berpedoman dengannya. Di samping itu, kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu (misalnya prinsip Islam sangat peduli dhuafa, sering dijadikan hujah bagi orang yang ingin mengatakan bahwa sosialisme itu juga Islami), yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. Ibrah itu ada pada esensi di balik suatu nama; bukan pada nama itu sendiri.

Ketujuh belas, akidah adalah fondasi aktivitas; aktivitas hati lebih penting dari aktivitas fisik. Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masing berbeda.

Kedelapan belas, Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat. Hikmah adlah barang hilang milik orang yang beriman (mukmin). Barangsiapa mendapatkannya, ialah orang yang paling berhak atasnya.

Kesembilan belas, panduan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut). Hakikah ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretatif) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanni maka pandangan yang syar’i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali.

Keduapuluh, kita tidak mengafirkan seorang Muslim yang telah mengikrarkan dua kalimah syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun kemaksiatannya, kecuali dia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Quran, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan, kecuali dengan tindakan kufur.

Apabila seorang muslim memahami ajaran Agamanya dengan batasan kaidah-kaidah di atas, berarti ia telah mengetahui makna syiarnya:”Al-Quran adalah dusturi kami dan rasul adalah qudwah kami.”

Allahu akbar...!!!

Di sadur dari: - “Majmu’ah Risa’ilil Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna” -

Tuesday, 31 March 2009

In My Heart....?????


Kalau goresan takdir itu sudah menyapa
kemana lagi bisa berlari darinya...

Saat Allah menganugerahkan nikmat ini,
cuma berjuta syukur yang bisa diucap.
Karena sekarang...hanya karena nikmat yang diberikan
itulah jalan mendaki terasa lempang.
Onak berduri masih bisa disambut senyuman.

Bang Imad pernah bilang, cinta itu adalah Pleasure to give.
Apa iya...? Jatuh cinta pada jalan da'wah ini benar-benar terasa luar biasa.
Segala hal yang bisa membuat menangis, masih saja terasa manis.
Tidak ada duka selagi semua itu disandarkan pada sebuah keyakinan,
akan ada misteri Allah di balik semua ujian.

Saat ini Allah karuniakan ikatan persaudaraan yang demikian indahnya.
Yang dibingkai pada sebuah ketaatan padaNya.
Dan diukir dalam kesungguhan berjuang di jalanNya.

Dan pada saat yang sama pula Allah berikan ujian yang demikian manisnya.
Adakah nikmat yang dia berikan itu membuat diri menjadi lalai
atau semakin tunduk pada titahNya...

Mungkin ada keinginan-keinginan yang sangat manusiawi terbersit dalam hati.
Namun ada sebuah janji yang diikrarkan pada pagi dan petang,
bahwa Allah selalu di atas segalanya...

Sahabat... jika saat itu datang...
Cinta yang disemat dalam khusyu'nya ketaqwaan pada Allah
ini selamanya akan tetap ada.
Dimana pun kita berada...ikatan itu akan tetap terasa.

Sebagaimana bintang yang selalu di langit
meskipun tak setiap malam bisa terlihat,
seorang saudara akan selalu ada.

Semoga kita selalu bersama dalam kafilah
panjang da'wah ini...

Allahumma innaka ta'lam anna haadzihil quluub,....
Qodijtama'at 'alaa mahabbatik,..

Hanya pada-Nyalah kita berserah diri..

My Anonymous

Thursday, 26 March 2009

Mengukir Sebuah Cinta

Dalam Kitab Hayatus Shahabah, halaman 524-525 diriwayatkan kisah berikut:

Menjelang perang uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa'd bin Abi
Waqqash untuk berdo'a. Ajakan itu disetujui oleh Sa'd. Keduanya mulai
berdo'a. Sa'd berdo'a terlebih dahulu: "Tuhanku, jika nanti aku berjumpa
dengan musuhku, berilah aku musuh yang sangat perkasa. Aku berusaha
membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan
kepadaku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya
(sebagai rampasan perang)."

Abdullah mengaminkannya. Tiba giliran Abdullah berdo'a: Tuhanku, berilah
aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha
membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku
bertemu dengan-Mu. Engkau akan bertanya, 'man jada'a anfaka wa udzunaka?'
(Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bahwa
keduanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan jalan Rasulullah
(fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata, "kamu benar!"
(shadaqta).

Sa'd mengaminkan do'a Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud
dan do'a keduanya dikabulkan oleh Allah.

Sa'd bercerita kepada anaknya, "Duhai anakku, do'a Abdullah lebih baik
daripada do'aku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung
pada seutas tali."

Kisah ini telah melukiskan sebuah cara untuk mengukur cinta kita pada
Allah. Sementara banyak orang yang berdo'a agar mendapat ini dan itu,
seorang pencinta sejati akan berdo'a agar dapat bertemu dengan kekasihnya
sambil membawa sesuatu yang bisa dibanggakan.

Ketika di padang mahsyar nanti Allah bertanya pada anda: "Dari mana kau
peroleh hartamu di dunia?" Anda akan menjawab, "harta itu kuperoleh dengan
kolusi dan korupsi, dengan memalsu kuitansi, dengan mendapat cipratan
komisi."

Allah bertanya lagi, "apa saja yang telah engkau lakukan di dunia?"

"Kuhiasi hidupku dengan dosa dan nista, tak henti-hentinya kucintai indah
dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadap-Mu." Allah dengan
murka akan menjawab, "kamu benar!"

Bandingkan dengan seorang hamba lain yang ketika di padang mahsyar berkata
pada Allah: "Telah kutahan lapar dan dahaga di dunia, telah kubasahi
bibirku dengan dzikir, dan telah kucurahkan waktu dan tenagaku untuk
keagungan nama-Mu, telah kuhiasi malamku dengan ayat suci-Mu dan telah
kuletakkan dahiku di tikar sembahyang bersujud di kaki kebesaran-Mu."

Dan Allah akan menjawab, "kamu benar!"

Duhai.... adakah kebahagian yang lebih dari itu; ketika seorang hamba
menceritakan amal-nya dan Allah akan membenarkannya.

Maukah kita pulang nanti ke kampung akherat dengan membawa amal yang bisa
kita banggakan? Maukah kita temui "kekasih" kita sambil membawa amalan yang
akan menyenangkan-Nya?


Nadirsyah Hosen

Wednesday, 25 February 2009

Install Cinta Kasih

by : fathonah maysyaroh gifasta_lin@ yahoo.com


Customer Service (CS): Ya, ada yang bisa saya bantu?

Pelanggan (P): Baik, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal cinta kasih. Bisakah anda memandu saya menyelesaikan prosesnya?

CS: Ya, saya dapat membantu anda. Anda siap melakukannya?

P: Baik, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS: Langkah pertama adalah membuka HATI anda. Tahukan anda di mana HATI anda?

P: Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?

CS: Program apa saja yang sedang aktif?

P: Sebentar, saya lihat dulu, Program yang sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE dan BENCI.COM.

CS: Tidak apa-apa. CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari system operasi Anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori anda, tetapi tidak lama karena akan tertimpa program lain. CINTA-KASIH akan menimpa MINDER.EXE dengan modul yang disebut PERCAYADIRI. EXE. Tetapi anda harus mematikan BENCI.COM dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal secara sempurna. Dapatkah anda mematikannya?

P: Saya tidak tahu cara mematikannya. Dapatkah anda memandu saya?

CS: Dengan senang hati. Gunakan Start menu dan aktifkan MEMAAFKAN.EXE. Aktifkan program ini sesering mungkin sampai BENCI.COM dan DENDAM.EXE terhapus.

P: OK, sudah. CINTA-KASIH mulai terinstal secara otomatis. Apakah ini wajar?

CS: Ya, anda akan menerima pesan bahwa CINTA-KASIH akan terus diinstal kembali dalam HATI anda. Apakah anda melihat pesan tersebut?

P: Ya. Apakah sudah selesai terinstal?

CS: Ya, tapi ingat bahwa anda hanya punya program dasarnya saja. Anda perlu mulai menghubungkan HATI yang lain agar untuk mengupgradenya.

P: Oops. Saya mendapat pesan error. Apa yang harus saya lakukan?

CS: Apa pesannya?

P: ERROR 412 - PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT". apa artinya?

CS: Jangan kuatir, itu masalah biasa. Artinya, program CINTA-KASIH diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bisa aktif dalam HATI internal anda. Ini adalah salah satu kerumitan pemrograman, tetapi dalam istilah non-teknis ini berarti anda harus men-"CINTA-KASIH" -i mesin anda sendiri sebelum men-"CINTA-KASIH" -i orang lain.

P: Lalu apa yang harus saya lakukan?

CS: Dapatkan anda klik pulldown direktori yang disebut "PASRAH"?

P: Ya, sudah.

CS: Bagus. Pilih file-file berikut dan salin ke direktori "MYHEART" MEMAAFKAN-DIRI- SENDIRI.DOC, dan MENYADARI-KEKURANGA N.TXT. sistem akan menimpa file-file konflik dan mulai memperbaiki program-program yang salah. Anda juga perlu mengosongkan Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.

P: Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.COM dikopi ke HATI. Apakah ini wajar?

CS: Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu untuk mendownloadnya. Jadi CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda harus bisa menanganinya dari sini. Ada satu lagi hal yang penting.

P: Apa?

CS: CINTA-KASIH adalah freeware. Pastikan untuk memberikannya kepada orang lain yang anda temui. Mereka akan share ke orang lain dan seterusnya sampai anda akan menerimanya kembali.

Dari postingan temen di suatu milis

Monday, 23 February 2009

Sebuah Tanggung Jawab

Habis baca blog temen,... Jadi inget...???

Semasa kuliah yang aktif di suatu organisasi dawah, yang konon katanya sebagai wadah bagi pembentukan generasi Rabbani. Suatu amanah yang sungguh berat memang. Apalagi, ketika harus menyampaikan sesuatu, selalu harus berpedoman pada dasar yang benar, yaitu firman Allah SWT:

" Amat besar kebencian di sisi Allah apabila kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (Q.S. As-Saff:3)

Ya, tapi mau tidak mau saya harus menyampaikan apa yang saya ketahui. " Sampaikan walaupun hanya satu ayat". Dari situlah sebenarnya kita bisa belajar. Semua kembali pada-Nya, dan biarkan Dia yang menilai pekerjaan kita.

Terbebani oleh kata-kata sendiri itu memang menyakitkan. Suatu pengingkaran melawan diri sendiri yang terkadang juga mengingkari akan kebenaran dari Sang Pemilik Kebenaran.
Memotivasi/memberi nasihat terhadap orang lain memang suatu pembelajaran yg sangat hebat, bahkan untuk diri sendiri. Namun, jika kita tidak bisa memaknainya terlebih dulu, itu sangat menyakitkan. Karena sama saja dengan berbohong, bukan hanya berbohong terhadap orang lain yg kita beri nasihat, akan tetapi juga terhadap diri sendiri, dan juga yang MAHA MELIHAT.

Moga jiwa ini selalu dapat senantiasa terus belajar dan belajar..., dan senantiasa Ihsan terhadap-Nya.

Famayya'mal mitskoladzarrotin khoiroyyaroh,. Wamayya'mal mitskoladzarotin Syaroyyaroh.

wallahu a'lam..

Thursday, 19 February 2009

Merindukan Mati Syahid

Salah satu fenomena menonjol yang terlihat pada kebanyakan warga Gaza ialah kecintaan mereka akan mati syahid. Setiap kali seorang anggota keluarga diwawancarai mengenai nasib keluarganya, maka ia otomatis menjawab: ”Abang saya telah syahid ketika kena mortir Yahudi.” Istilah syahid untuk mengungkapkan kematian anggota keluarga tampaknya sudah menjadi kebiasaan di kalangan warga Gaza. Entah ini merupakan keberhasilan Hamas dalam mempersiapkan warga Gaza menghadapi keadaan seperti yang mereka alami dewasa ini atau memang ini sudah menjadi pemahaman mendarah daging bangsa Palestina. Apapun, yang jelas ini merupakan nilai mulia menurut ajaran Islam.

Dalam banyak hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sering menyebut-nyebut tentang orang-orang Syam. Wilayah Syam adalah suatu kawasan yang dewasa ini meliputi empat negeri yakni Palestina, Jordania, Suriah dan Lebanon. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa pasukan yang terkonsolidasi dengan baik di akhir zaman keberadaannya bakal ada di wilayah Syam.

Seorang Muslim akan memiliki kesiapan apalagi kecintaan untuk mati syahid bilamana ia memahami kewajiban jihad di jalan Allah. Hanya mereka yang memuliakan kewajiban jihad-lah yang dapat memiliki kerinduan untuk mati syahid. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa pentingnya setiap lelaki Mukmin bercita-cita untuk terlibat dalam perang di jalan Allah. Dan betapa besarnya bahaya bagi seorang Mukimin yang tidak pernah berperang di jalan Allah dalam hidupnya atau sekurangnya memancangkan cita-cita untuk berperang di jalan Allah dalam hidupnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR Muslim 3533)

Hadits di atas bukan berarti Islam menganjurkan ummatnya untuk bermental haus darah. Tetapi hadits tersebut mengarahkan seorang Muslim untuk menghayati betapa mahalnya ni’mat Iman dan Islam sehingga ia diharapkan siap mengorbankan segalanya demi menegakkan Islam hingga nyawanya, bilamana tuntutannya demikian.

Mengapa kebanyakan warga Gaza memperlihatkan kemantapan jiwa dalam situasi perang yang telah menelan korban hingga lebih 1200 nyawa dan lebih 5000 terluka? Tampaknya hal ini disebabkan karena nilai-nilai jihad di jalan Allah sudah cukup hebat tersosialisasi di antara kebanyakan warganya. Kesadaran bahwa upaya membebaskan diri dan tanah-airnya dari cengkeraman penjajahan Israel telah menyatu dengan panggilan jihad di jalan Allah. Kesadaran inilah yang sepatutnya kita teladani dari bangsa Palestina. Suatu bangsa yang telah mengajarkan dunia betapa mulianya hubbul-jihad wasy-syahadah (cinta jihad dan mati syahid).

Saudaraku, inilah di antara pelajaran berharga di balik peristiwa mengenaskan yang terjadi di salah satu jengkal tanah suci, yakni Gaza. Tampaknya kebanyakan warga Gaza telah memahami bahwa kematian hanya akan datang sekali bagi setiap orang. Maka mereka berusaha untuk menjemputnya dengan seni kematian, yaitu mati mulia alias mati syahid. Artinya, bangsa ini telah lama meninggalkan penyakit wahan. Suatu penyakit yang menjangkiti kebanyakan manusia modern dewasa ini. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakita Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Saudaraku, kita sungguh berhutang budi kepada bangsa Palestina warga Gaza. Melalui pengorbanan mereka menghadapi kebrutalan mesin pembunuh massal pasukan Yahudi Zionis Israel kita semua, secara langsung maupun tidak langsung, memperoleh pendidikan mengenai pentingnya memelihara kecintaan berjihad dan kerinduan untuk mati syahid.

Ya Allah, peliharalah iman dan pengorbanan saudara-saudara kami di Gaza. Jadikanlah kami seperti mereka dalam hal kesiapan untuk berkorban di jalanMu. Ya Allah, jadikanlah kami mencintai jihad di jalanMu dan merindukan mati syahid sebagaimana bangsa Palestina warga Gaza.

Artikel dari: eramuslim.com